Tampilkan postingan dengan label AKHLAQ. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AKHLAQ. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Maret 2011

Indahnya Akhlaqul Karimah



Indahnya Akhlaqul Karimah

Para pembaca yang kami hormat, bila kita mau menggali kembali warisan akhlak yang mulia sebagaimana yang telah diwariskan di dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah, niscaya kita akan mendapati betapa indahnya Islam itu. Sungguh menyedihkan, tatkala menyaksikan banyak dari saudara-saudara kita kaum muslimin kurang memberikan perhatian terhadap masalah akhlak. Terlebih ketika menyaksikan generasi muda Islam yang mayoritas mereka tumbuh dan berkembang tidak di atas bimbingan akhlak yang mulia.

Seyogyanya, pendidikan akhlak kepada generasi muda dimulai semenjak mereka berada dalam masa kanak-kanak, baik dalam lingkungan keluarga maupun dalam sebuah lembaga pendidikan. Walaupun, pada akhirnya itu semua kembali kepada hidayah dari Allah ‘azza wa jalla. Namun setidaknya, telah ada upaya dengan penuh kesungguhan dari diri kita yang diiringi dengan doa kepada Allah ‘azza wa jalla. Semoga anak cucu kita menjadi generasi yang berakhlak dengan akhlak yang mulia.

Dalam hal ini, sosok yang sangat pantas untuk kita jadikan sebagai teladan adalah Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau telah mengaplikasikan sifat-sifat yang mulia semenjak masa kanak-kanak. Sehingga tidaklah mengherankan ketika di kemudian hari beliau menjadi orang kepercayaan di kalangan kaumnya sebelum diangkat menjadi nabi dan menerima banyak pujian dari mereka.

Allah ‘azza wa jalla telah memberikan pujian kepada beliau dalam firman-Nya (artinya):

“Dan sesungguhnya kamu Muhammad benar-benar berbudi pekerti yang agung.” QS. Al-Qalam 4

Sungguh telah terkumpul pada diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam akhlak-akhlak yang baik seperti rasa malu, kedermawanan, keberanian, menepati janji, suka menolong, kecerdasan, lembut, memuliakan anak yatim, kejujuran, menjaga harga diri, menjaga kesucian hati, dan lain-lain.

‘Aisyah radhilyallahu ‘anha, istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, pernah ditanya tentang akhlak beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia menjawab:

“Maka sesungguhnya akhlak Nabi Allah Muhammad adalah Al-Qur‘an.” HR. Muslim dan Abu Dawud

Allah ‘azza wa jalla berfirman (artinya):

Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah. QS. Al-Ahzab 21

Sahabat Anas bin Malik radhilyallahu ‘anhu mengatakan

“Rasulullah adalah manusia yang paling baik akhlaknya.” HR. Al-Bukhari, Muslim dan Abu Dawud

Di tengah-tengah gencarnya dakwah tauhid yang diserukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau tetap memberikan porsi kepada pembenahan akhlak. Hal ini tercermin dari sabda beliau

“Hanya saja aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” HR. Al-Baihaqi dan Al-Bukhari dalam Adabul Mufrad

Keutamaan Akhlak yang Mulia

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah menerangkan tentang keutamaan akhlak yang mulia, beliau bersabda

“Tidak ada sesuatu yang diletakkan dalam timbangan di hari kiamat kelak yang lebih berat daripada akhlak yang baik. Dan sesungguhnya seorang yang berakhlak baik akan bisa mencapai derajat orang yang rajin berpuasa dan shalat (sunnah).” HR. At-Tirmidzi

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyebutkan

“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan paling dekat tempat duduknya dariku pada hari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya.” HR. At-Tirmidzi

Urgensi Akhlak yang Baik dalam Dakwah

Akhlak yang mulia merupakan bekal berharga yang tidak boleh dianggap remeh oleh seorang da’i juru dakwah yang terjun ke masyarakat dalam rangka mengemban tugas yang agung nan mulia yaitu berdakwah ke jalan Allah. Akhlak yang mulia akan memberikan pengaruh yang luar biasa di hati-hati manusia.

Para pembaca yang berbahagia! Amalan dakwah ke jalan Allah merupakan amalan yang cukup berat, yang membutuhkan perjuangan fisik dan mental dari seorang da’i. Yang demikian itu memang sebanding dengan pahala dan keutamaannya yang besar. Oleh karena itulah, yang mampu mengemban tugas berat ini hanyalah orang-orang yang memiliki sifat-sifat agung dan mulia dalam kehidupannya. Bukan orang-orang yang kasar perangainya, kotor dan tajam lisannya, sempit pandangannya, jelek pergaulannya, dan yang memiliki sifat-sifat tercela lainnya.

Seorang da’i, apabila telah mempersiapkan diri sebaik mungkin dengan bekal akhlak yang mulia, niscaya dakwah ke jalan Allah yang ia serukan akan berguna dan memberikan manfaat serta akan lebih mudah untuk diterima di hati masyarakat.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah mengatakan dalam ceramahnya ketika memberikan nasehat kepada para pemuda tentang masalah Kebangkitan Islam bahwasanya dakwah Islam akan bisa meraih keberhasilan dan kesuksesan apabila para pemikul amanah tersebut memiliki beberapa bekal. Beliau menyebutkan beberapa bekal yang berkaitan dengan akhlak, di antaranya adalah:

1. Seorang da’i wajib memiliki sifat hikmah dalam berdakwah. Hendaklah ia tidak terburu-buru untuk menikmati hasil dalam usahanya merubah keadaan masyarakat yang jelek menjadi baik. Kemudian kata beliau …Dan sungguh -demi Allah- saya sangat senang sekali melihat kecemburuan para pemuda dan semangatnya dalam membasmi kemungkaran, menegakkan kebenaran serta memerintahkan kepada kebaikan. Namun aku lebih suka -demi Allah- dengan sepenuh hatiku, apabila mereka melandasi langkah-langkah tersebut dengan cara hikmah. Walaupun hasilnya agak lambat namun akan membawa akibat yang terpuji…

Kemudian beliau menyebutkan dalilnya, yaitu firman Allah (artinya):

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabbmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” QS. An-Nahl 125

2. Memiliki sifat sabar dengan mengharap pahala dari Allah. Betapa banyak para generasi muda yang setelah mendapat hidayah untuk berjalan di atas jalan generasi salaf yang shalih, mereka bersemangat mengajak keluarganya kepada jalan tersebut. Namun kemudian datang berbagai keluhan dari mereka, bahwasanya mereka mendapatkan tekanan dari kedua orangtuanya baik dalam bentuk celaan, ejekan atau fitnah.

Maka wajib bagi kita untuk bersabar (dari cobaan tersebut) dengan mengharap pahala dari Allah dan tidak boleh putus asa. Dan jangan menjadikan hal itu sebagai penghalang dari dakwah ke jalan Allah. Allah telah berfirman (artinya): “Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga di perbatasan negerimu dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” QS. Ali Imran 200

3. Berhias dengan akhlak yang mulia. Seorang da’i harus mencerminkan diri dalam kehidupannya sesuai dengan apa yang ia serukan. Bagaimana pandangan masyarakat terhadap seorang da’i yang memberikan nasehat kepada umatnya untuk beramal sesuatu, namun ia sendiri tidak mengamalkannya? Demikiankah ?

4. Melandasi dakwahnya dengan kelemahlembutan. Tidak kasar atau selalu keras dalam cara penyampaian. Tidak tajam atau kotor dalam berbicara. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya Allah Maha Lembut dan menyukai kelembutan. Allah memberikan kepada kelembutan apa yang tidak Dia berikan kepada kekasaran dan yang lainnya”. HR. Muslim

5. Menghidupkan sunnah ziarah saling mengunjungi saudara sesama muslim. Sunnah ini telah diabaikan oleh kebanyakan kaum muslimin. Sesungguhnya sunnah ini akan menumbuhkan kelembutan hati dan kecintaan kepada sesama muslim. Dan seorang da’i memiliki peran besar dalam mengamalkan sunnah ini.

6. Tidak boleh berputus asa tatkala melihat berbagai kerusakan di tengah masyarakat.

Cita-cita atau harapan merupakan pendorong yang kuat dan usaha demi keberhasilan dakwah. Sebagaimana putus asa merupakan sebab kegagalan dan berhentinya sebuah dakwah.

Pengaruh Akhlak yang Mulia

Berikut ini adalah contoh-contoh kisah tentang bagaimana akhlak yang mulia mampu memberikan pengaruh yang luar biasa dalam hati manusia sekalipun mereka adalah orang kafir.

1. Suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumpulkan kaum musyrikin Quraisy di bukit Shafaa dalam rangka menjelaskan tentang risalah Islam. Beliau mengatakan kepada mereka:

“Bagaimana menurut kalian apabila aku kabarkan kepada kalian bahwasanya akan keluar kuda dari balik kaki bukit ini, apakah kalian akan mempercayaiku?” Mereka menjawab: “Kami belum pernah mendapatimu berdusta.” HR. Al-Bukhari dan Muslim

2. Sahabat Anas bin Malik menceritakan,

“Suatu hari kami para sahabat sedang duduk-duduk di masjid bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tiba-tiba datanglah seorang arab kampung masuk ke dalam masjid kemudian kencing di dalamnya. Maka dengan serta merta para sahabat pun menghardiknya. Rasulullah bersabda, Jangan menghardiknya! Biarkan dia hingga tuntas kencingnya! “(Setelah selesai dari kencingnya) Rasulullah memanggil orang tersebut kemudian menasehatinya Sesungguhnya yang namanya masjid, tidak pantas untuk tempat kencing, tidak juga tempat kotoran. Hanya saja masjid itu sebagai tempat untuk berdzikir kepada Allah, shalat, dan membaca Al-Qur‘an. Atau sebagaimana sabda Rasulullah. Kemudian Rasulullah memerintahkan seseorang untuk menyiram kencing orang arab kampung tersebut, maka ia membawa seember air kemudian menyiramkannya ke tempat kencing tersebut. HR. Muslim

Dalam riwayat Al-Bukhari disebutkan bahwasanya sahabat Abu Hurairah menceritakan,

“(Suatu hari) kami shalat bersama Rasulullah. Kemudian di tengah-tengah shalat A‘rabi itu berdo‘a, “Ya Allah, rahmatilah aku dan Muhammad. Dan jangan engkau rahmati siapapun selain kami berdua.” Setelah selesai salam, Rasulullah bersabda kepada A‘rabi tersebut, Sungguh, engkau telah mempersempit rahmat Allah yang luas.

Dalam riwayat Ahmad dari hadits Abu Hurairah diceritakan (A‘rabi yang pernah kencing di masjid itu) mengatakan -setelah dia berilmu-, “Rasulullah ketika itu (peristiwa kencing) menasehatiku. Beliau tidak mencelaku, memarahiku, tidak pula memukulku”.

3. Dalam sebuah kisah yang diceritakan oleh Abu Sufyan ketika beliau berdagang di negeri Syam, beliau dipanggil oleh Heraklius kaisar Romawi. Dan Heraklius mulai bertanya kepada Abu Sufyan ketika itu beliau masih kafir tentang sosok Rasulullah. Ia bertanya,”Apakah kalian pernah menuduhnya sebagai pendusta sebelum ia menyampaikan sesuatu (risalah Islam)?” Abu Sufyan menjawab,” Tidak pernah.” Ia bertanya lagi,”Apa yang diperintahkannya kepada kalian?” Abu Sufyan menjawab,”Dia memerintahkan untuk beribadah kepada Allah semata dan tidak boleh menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, memerintahkan untuk meninggalkan ucapan nenek moyang, memerintahkan untuk menegakkan shalat, zakat, berkata jujur, menjaga harga diri, menyambung tali persaudaraan. . .” HR. Al-Bukhari


Referensi:

“Ash Shahwah Al-Islamiyah, Dhawabith wa Taujihat”, Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin.
SILAKAN BACA SELENGKAPNYA..

Sabtu, 08 Januari 2011

Meraih Kebahagiaan Hidup



Meraih Kebahagiaan Hidup

Para pembaca yang berbahagia, tidak diragukan lagi bahwa setiap insan pasti mendambakan (pada dirinya) kebahagiaan hidup atau kehidupan yang baik.

Namun pandangan masing-masing orang tentang kebahagiaan hidup itu berbeda-beda. Sebagian orang ada yang memandang bahwa ukuran kebahagiaan adalah keberhasilan dalam meraih dunia dengan segala kelezatan hidupnya. Padahal tidaklah demikian hakikatnya.

Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman (artinya):

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” [Ali ‘Imran: 14]

Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman (artinya):

“Allah meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit).” [Ar-Ra’d: 26]

Inilah segolongan manusia yang sempit akal dan pandangannya. Mereka merasa heran dan kagum dengan kehidupan dunia dan mencukupkan semangat dirinya terhadap kehidupan dunia. Keadaan mereka yang seperti ini disebabkan oleh:

1.Tidak ada pada dirinya keimanan kepada akhirat.

2.Atau beriman kepada akhirat namun tersibukkan dirinya dengan urusan dunia.


Sehingga kehidupannya adalah kehidupan yang rugi dan celaka, walaupun ia diberikan kemudahan oleh Allah Subhanallahu wa Ta’ala untuk meraih harta, perhiasan dan berbagai kelezatan dunia, namun hakikatnya dia sedang mengalami istidraj (keleluasaan) dari Allah Subhanallahu wa Ta’ala. Kemudian ia akan mengalami kerugian yang abadi.

Sebagaimana firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala (artinya):

“Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir.” [At-Taubah: 55]

Sebagian ulama ahli tafsir mengatakan tentang ayat di atas: “Janganlah kamu tertipu terhadap harta benda dan anak-anak (yang Allah berikan kepada) orang kafir di kehidupan dunia, hanya saja Allah menghendaki yang demikian, agar Dia mengadzab mereka di akhirat kelak.” Inilah yang dinamakan dengan istidraj. Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman (artinya):

“Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa) Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.” [Al Mu’minun: 55-56]

Allah Subhanallahu wa Ta’ala memberikan dunia kepada siapa saja yang Allah cintai dan yang tidak Allah cintai. Namun, tidaklah Allah memberikan agama ini, kecuali kepada siapa yang Allah Subhanallahu wa Ta’ala cintai. Sebesar apapun seseorang diberikan kekayaan dunia, niscaya lambat laun ia yang akan meninggalkan dunia atau dunia yang akan meninggalkannya.

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan antara kamu serta berbangga-banggaan dengan banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” [Al Hadid: 20]

Mencari dunia terkait dengan kebutuhan hidup adalah sesuatu yang mulia jika dilakukan dalam rangka membantunya untuk taat kepada Allah. Karena dunia adalah ladang beramal untuk kehidupan di akhirat. Hanya saja, sikap yang tercela adalah menjadikan semangatnya yang tinggi untuk meraih dunia. Sehingga tidaklah ia mengarahkan pandangannya kecuali kepada dunia. Tidak peduli darimana ia mendapatkan harta dengan cara yang halal ataukah haram? Dialah sahabat dunia, yang telah menjadikan dunia sebagai tujuan utama dan semangat yang tinggi untuk mendapatkannya, dengan persangkaan bahwa dengannya akan tercapai kebahagiaan hidup.

Adapula yang memandang bahwa kebahagiaan hidup hanya bisa diraih dengan iman dan amal shalih dengan tetap mencari apa yang dibutuhkan dalam kehidupan dunia ini. Mereka mengatakan dalam doanya: “Wahai Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan akhirat dan lindungilah kami dari adzab neraka.” Mereka menggabungkan dalam doa mereka agar Allah memberikan kepada mereka kebaikan di dunia dan akhirat. Merekalah orang-orang yang akan mendapatkan kebahagiaan hidup. Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman (artinya):

“Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” [An Nahl: 97]

Barangsiapa yang beramal shalih baik dari kalangan laki-laki atau perempuan dalam keadaan iman, maka Allah akan memberikan kepadanya kebahagiaaan hidup. Di dunia ia merasakan kebahagiaan hidup diatas iman, hatinya tenang, lapang dan senang. Mereka hidup dalam keadaan berzikir kepada Allah, merasakan kenikmatan dalam beribadah kepada Allah Subhanallahu wa Ta’ala. Kemudian di akhirat, Allah Subhanallahu wa Ta’ala akan memasukkan mereka ke dalam surga dan merasakan kelezatan di dalamnya, merasakan kenikmatan abadi yang tidak akan pernah terputus selama-lamanya. Tidak merasakan di dalamnya rasa sakit, takut kepada musuh, tidak ada perasaan gelisah yang menghantuinya, tidak ada dalam hatinya penyakit-penyakit hati, tidak akan pernah merasakan kematian dan sebagainya. Demikianlah ahlul jannah (penduduk surga), mereka merasakan kebahagiaan hidup yang hakiki.

Ibnu Taimiyah berkata: “Kebaikan, kebahagiaan, kesempurnaan, dan kedamaian, akan tercapai dengan dua hal: ilmu yang bermanfaat, dan amalan shalih.” (Majmu’ Al-Fatawa, 19/169)

Apabila engkau ingin merasakan kebahagiaan hidup, maka wajib bagimu untuk beramal shalih selama hidupmu. Carilah dunia yang akan membantumu untuk memperoleh akhirat. Carilah dunia secukupnya sekedar membantumu taat kepada Allah Subhanallahu wa Ta’ala.

Tips Meraih Ketenangan Hati

Melihat realita yang ada, beberapa orang yang notabene merupakan orang-orang yang terbilang sukses dalam dunianya dan memiliki kedudukan di mata publik, mereka menjadi pasien rohani di beberapa pondok pesantren. Kerasnya roda kehidupan dan jauhnya diri dari norma Islam yang benar, telah membuat hati mereka kering, sesak, risau, dan selalu didera rasa takut. Mereka tidak merasakan ketenangan hati dan seakan seperti terkucilkan dari pergaulan, sehingga membuat mereka stress, dan bahkan sampai membawa kepada perbuatan yang dilarang oleh agama yaitu bunuh diri. Demikianlah, wahai pembaca, kenyataan yang cukup memilukan. Oleh karena itu, sebagai bentuk kepedulian terhadap saudara-saudara kita yang mengalami musibah ini, kami nukilkan disini beberapa tips yang sangat mudah untuk diamalkan dalam meraih ketenangan hati. Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan dalam kitabnya “Al-Wasa`il Al-Mufidah lil Hayat As-Sa’idah”:

“Sesungguhnya kelapangan, ketenangan dan kegembiraan hati serta jauhnya hati dari perasaan sedih serta gundah gulana merupakan diantara sebab yang akan mengantarkan seseorang untuk meraih kebahagian hidup.”

“Sedangkan sebab terbesar untuk meraih kebahagiaan hidup adalah keimanan dan amalan shalih. Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman (artinya):

“Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” [An Nahl: 97] (Lihat Al-Wasa`il Al-Mufidah lil Hayat As-Sa’idah, hal. 4)

Allah Subhanallahu wa Ta’ala telah memberikan kabar gembira dan janji mulia kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih berupa kebahagiaan hidup. Di dunia berupa ketenangan hati dan ketentraman jiwa serta anugerah dalam bentuk rezeki yang halal dari arah yang tidak disangka-sangka. Di akhirat dia akan mendapatkan kenikmatan yang belum pernah terlihat oleh mata, dan belum pernah terdengar oleh telinga serta belum pernah terbetik dalam hati seorang hamba, yaitu kenikmatan surga.

Dua hal pokok yaitu iman dan amalan shalih merupakan sebab terbesar untuk meraih kebahagiaan hidup. Karena seorang yang beriman kepada Allah dengan keimanan yang benar, akan membuahkan amalan yang shalih, yang akan memperbaiki hati, akhlak, dan kehidupannya di dunia dan di akhirat.

Beberapa hal yang perlu diamalkan dalam meraih ketenangan hati, disamping yang telah disebutkan di atas, adalah:

1. Memperbanyak dzikir kepada Allah.

2. Menyebut-nyebut kenikmatan yang Allah karuniakan dengan lisannya.

3. Mengambil pelajaran dari kondisi orang yang di bawahnya dalam hal kenikmatan.

4. Berbuat baik kepada sesama makhluk dengan ucapan, perbuatan dan segala macam kebaikan.

5. Berkonsentrasi dalam melakukan amalan yang dilakukan pada hari ini dan jangan terlalu memikirkan (risau) terhadap waktu yang akan datang serta tidak boleh bersedih dari waktu yang telah berlalu.

6. Berusaha untuk menolak sebab-sebab yang mendatangkan kesedihan, gundah-gulana dan yang semacamnya dengan cara melupakan segala pengalaman pahit yang pernah terjadi.

7. Banyak berdoa kepada Allah agar diringankan segalal beban dunia dan diperbaiki segala urusan.

8. Menyandarkan hati hanya kepada Allah dan bertawakal kepada-Nya.


Untuk lebih rincinya, silakan membaca kitab Al-Wasail Al-Mufidah lil Hayat As-Saidah karya Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Wallahu Ta’ala A’lam.

Sumber: http://www.buletin-alilmu.com/meraih-kebahagiaan-hidup
SILAKAN BACA SELENGKAPNYA..

Postingan Populer